Pendahuluan
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) adalah organisasi profesi yang memayungi para dokter di seluruh Nusantara. Sejak berdiri pada tahun 1950, IDI telah menjadi garda depan dalam menjaga etika, profesionalisme, dan integritas profesi medis di Indonesia. Namun, di balik kejayaan IDI, ada sejumlah tokoh legendaris yang telah memberikan dedikasi dan perjuangan luar biasa demi kemajuan dunia kedokteran nasional.
Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih dekat tokoh-tokoh legendaris di balik IDI, kontribusi mereka, serta warisan yang masih terasa hingga kini.
- Prof. Dr. Bahder Djohan – Pendiri dan Peletak Dasar IDI
Bahder Djohan dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah IDI. Ia adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI era Soekarno dan juga rektor Universitas Indonesia. Sebagai salah satu pendiri IDI, ia memegang peran vital dalam menyatukan berbagai organisasi kedokteran menjadi satu wadah resmi.
Kontribusi:
- Mendorong pembentukan IDI pada Kongres Dokter Indonesia di Jakarta tahun 1950.
- Menekankan pentingnya kode etik kedokteran Indonesia.
- Menginisiasi penguatan sistem pendidikan kedokteran modern di Indonesia.
- Prof. Dr. G. A. Siwabessy – Arsitek Kesehatan Nasional
Prof. G. A. Siwabessy adalah Menteri Kesehatan Indonesia yang sangat dihormati dan sering disebut sebagai “Bapak Pembangunan Kesehatan Indonesia”. Meskipun ia lebih dikenal sebagai pejabat pemerintah, pengaruhnya sangat besar terhadap arah dan kebijakan IDI.
Kontribusi:
- Menyusun sistem kesehatan nasional terpadu.
- Membangun hubungan erat antara IDI dan Kementerian Kesehatan.
- Mempromosikan distribusi dokter ke pelosok negeri.
- Dr. Satrio – Ketua Umum IDI Pertama
Dr. Satrio merupakan Ketua Umum pertama IDI setelah resmi berdiri pada 24 Oktober 1950. Di masa kepemimpinannya, ia merumuskan banyak regulasi penting dan menjadi simbol integritas profesi kedokteran.
Kontribusi:
- Menyusun Kode Etik Kedokteran Indonesia (KEKI) pertama.
- Memperjuangkan hak dan kewajiban dokter di masa transisi pasca-kemerdekaan.
- Menjadi tokoh diplomatik yang menjembatani komunikasi antara IDI dan dunia internasional.
- Prof. Dr. Suwardjono Surjaningrat – Bapak Ilmu Kedokteran Indonesia
Sebagai guru besar dan pemikir di bidang ilmu kesehatan masyarakat, Prof. Suwardjono dikenal atas dedikasinya dalam pendidikan dokter serta penelitiannya yang monumental.
Kontribusi:
- Mendirikan banyak fakultas kedokteran di daerah.
- Aktif membina kader IDI di berbagai wilayah.
- Menjadi inspirator bagi generasi muda dokter melalui karya ilmiah dan pengabdian.
- Dr. Adib Khumaidi, SpOT – Wajah Modern IDI
Sebagai Ketua Umum IDI periode terkini, Dr. Adib Khumaidi adalah tokoh yang menjadi representasi IDI era digital dan pandemi. Ia banyak memperjuangkan transformasi digitalisasi pelayanan kesehatan dan memperkuat citra IDI di tengah masyarakat.
Kontribusi:
- Menjadi juru bicara IDI di masa pandemi COVID-19.
- Mendorong kolaborasi digital antar dokter dan rumah sakit.
- Menegakkan etik dan profesionalisme saat profesi dokter menghadapi tekanan publik.
Mengapa Mengenal Tokoh-Tokoh IDI Itu Penting?
Menelusuri jejak tokoh legendaris di balik IDI memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana profesi dokter di Indonesia dibentuk dengan idealisme dan pengorbanan. Mereka bukan sekadar praktisi medis, melainkan pemikir dan pemimpin yang meletakkan fondasi kuat untuk:
- Standar etika yang tinggi.
- Pendidikan kedokteran yang berkelanjutan.
- Layanan kesehatan yang inklusif dan merata.
Kesimpulan
Tokoh-tokoh legendaris di balik IDI adalah penjaga api semangat kemanusiaan dan profesionalisme medis di Indonesia. Mereka telah meletakkan dasar yang kokoh bagi dokter masa kini untuk terus berkarya, melayani, dan menjaga martabat profesi. Mengenang jasa mereka bukan hanya soal sejarah, tapi juga upaya meneruskan warisan yang telah mereka mulai.



