Pendahuluan
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) adalah organisasi profesi yang menaungi seluruh dokter di Indonesia. Didirikan pada masa transisi kemerdekaan, IDI telah menjadi garda terdepan dalam memajukan kesehatan nasional dan menjaga etika profesi medis. Namun, tak banyak yang tahu bahwa sejarah berdirinya IDI tak lepas dari dinamika sosial-politik Indonesia pada masa itu. Artikel ini akan mengulas secara lengkap latar belakang, proses pendirian, hingga peran awal IDI dalam sejarah bangsa.
Latar Belakang Sejarah
Sebelum IDI resmi berdiri, para dokter Indonesia sudah menunjukkan semangat untuk bersatu dalam satu wadah profesi sejak masa kolonial. Pada awal abad ke-20, dunia medis di Hindia Belanda didominasi oleh dokter-dokter Belanda, namun lambat laun mulai bermunculan dokter pribumi hasil didikan sekolah kedokteran seperti STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia.
Kesadaran akan pentingnya organisasi profesi muncul seiring meningkatnya jumlah dokter pribumi dan semakin kompleksnya tantangan di bidang kesehatan masyarakat. Selain itu, semangat nasionalisme yang membara di masa menjelang kemerdekaan turut mendorong terbentuknya organisasi yang mampu mewadahi dan memperjuangkan aspirasi para dokter Indonesia.
Proses Pendirian IDI
Ikatan Dokter Indonesia resmi berdiri pada 24 Oktober 1950 dalam Kongres Dokter Indonesia pertama yang digelar di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri oleh perwakilan dokter dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kongres tersebut, para dokter sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi nasional bernama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai wadah tunggal profesi kedokteran di Indonesia.
Tokoh-tokoh penting yang berperan dalam pendirian IDI antara lain:
- Dr. Bahder Djohan – salah satu pendiri dan penggagas utama IDI, yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
- Dr. Soeharto – tokoh medis dari Jawa Tengah yang aktif dalam pengembangan organisasi profesi.
- Dr. Tjipto Mangunkusumo – meskipun beliau telah wafat sebelum IDI berdiri, perjuangannya dalam dunia kesehatan memberi inspirasi besar bagi generasi dokter setelahnya.
Yogyakarta dipilih sebagai lokasi kongres pertama karena saat itu menjadi ibu kota sementara Republik Indonesia, sekaligus simbol perjuangan dan semangat kemerdekaan.
Tujuan dan Visi Awal
Sejak awal, IDI didirikan dengan beberapa tujuan utama, yaitu:
- Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
- Menjaga dan meningkatkan mutu profesi dokter Indonesia.
- Mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi anggotanya.
- Menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan kesehatan.
Dengan visi tersebut, IDI berkomitmen untuk menjaga standar etika profesi dan memperjuangkan hak serta kewajiban dokter dalam sistem kesehatan nasional.
Perkembangan IDI Setelah Kemerdekaan
Setelah pendiriannya, IDI segera aktif dalam berbagai kegiatan, seperti:
- Menyelenggarakan pelatihan dan seminar medis.
- Mengeluarkan pedoman etika kedokteran.
- Membentuk cabang IDI di berbagai provinsi dan kota.
- Berpartisipasi dalam pembentukan sistem kesehatan nasional bersama Kementerian Kesehatan.
IDI juga menjadi anggota organisasi profesi internasional seperti World Medical Association (WMA), yang memperkuat posisi Indonesia dalam kancah kedokteran dunia.
Tantangan dan Peran Strategis
Selama lebih dari tujuh dekade, IDI menghadapi berbagai tantangan mulai dari kurangnya fasilitas medis, distribusi dokter yang tidak merata, hingga dinamika politik dan kebijakan kesehatan. Namun, IDI terus memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan etika profesi.
Dalam situasi pandemi COVID-19, misalnya, IDI berperan aktif memberikan edukasi, melindungi dokter di garda terdepan, dan menyuarakan kebijakan berbasis bukti ilmiah.
Penutup
Sejarah berdirinya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bukan hanya catatan masa lalu, melainkan fondasi kuat bagi dunia kedokteran nasional. Dengan semangat kolektivitas, profesionalisme, dan pengabdian kepada masyarakat, IDI terus menjadi penjaga integritas profesi dokter di Indonesia.
Sebagai organisasi profesi yang lahir dari semangat kemerdekaan, IDI diharapkan tetap adaptif, responsif, dan berorientasi pada kemajuan kesehatan rakyat Indonesia.



